Tampilkan postingan dengan label resensinovel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label resensinovel. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 September 2024

RESENSI NOVEL THE MURDER OF KING TUT

Judul Asli : The Murder Of King Tut
Judul Terjemahan : Pembunuhan Raja Tut
Penulis : James Patterson & Martin Dugard
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2013
Alih Bahasa : Julanda Tantani
Desain Sampul : Eduard Iwan Mangopang
Tebal : 392 halaman
Ukuran : 20 cm
ISBN : 978-979-22-9713-3
Rating : ★★★★★



BLURB

Tutankhamun, si Raja bocah, terpaksa naik tahta pada usia sembilan tahun. Baru sembilan tahun memerintah, Raja Tut wafat tiba-tiba, namanya lenyap dari sejarah Mesir dan sampai pada hari ini kematiannya masih terselubung misteri.

Howard Carter berniat mengungkap jawaban atas misteri yang telah berumur tiga ribu tahun ini dan bertekad untuk menemukan makam tersembunyi sang Firaun. Dia memulai penelitiannya pada tahun 1907, namun menghadapi banyak halangan, sebelum akhirnya usahanya membawa hasil.

Berdasarkan bukti-bukti X-ray, arsip-arsip Carter, dan lain-lainnya, James Patterson dan Martin Dugard menyusun kisah tentang kehidupan dan kematian Raja Tut dalam sebuah novel yang penuh intrik dan pengkhianatan.

⏩⏪

Howard Carter seorang yang menaruh perhatian sangat besar terhadap ilmu Mesir Purbakala, dimana ia pada umur tiga belas tahun telah membantu ayahnya mengerjakan proyek pengecatan bagi Lord Amherst, seorang anggota parlemen yang menaruh minat tinggi pada benda-benda seni purbakala. Howard sangat menyukai tempat perpustakaan pribadi Lord Amherst, ruangan yang mempesona dan dipercantik dengan patung-patung raksasa yang diimport langsung dari padang gurun Mesir. Ia merasa menjelajah ke sekeliling dunia bila berada di tempat itu. Lord Amherst menyadari betapa Carter sangat tertarik dengan semua benda seni dan buku kuno yang ada di perpustakaannya sehingga ia dengan sangat senang membimbing Carter menjelaskan makna penting dari sejumlah buku dan benda langka koleksinya. Lord Amherst memberikan kunjungan tanpa batas padanya untuk dapat mempelajari semua ilmu Mesir purbakala dan mendukung Carter memperdalam ilmu tersebut.

Howard pada usia 17 tahun di tawari sebuah pekerjaan sebagai pembuat sketsa oleh Perky Newberry, seorang ahli purbakala Mesir. Tugaas Carter adalah membuat sketsa dari lukisan-lukisan yang ada  di dinding makam para Firaun. Carter pun menerima tawaran tersebut, tentunya di dukung pula oleh Lord Amherst yang telah menganggapnya sebagai bagian dari keluarga.

Kembali ke masa silam, Amenhotep IV (atau yang kemudian disebut dengan Akhenaten) mempunyai seorang istri yang cantik bernama Nefertiti, dan dikaruniai tiga anak perempuan. Amenhotep menjadi Firaun menggantikan Ayahnya, yakni Amenhotep, pada usia 20 tahun, akan tetapi ia memiliki banyak kekurangan secara fisik sehingga banyak yang menganggapnya sebagai orang aneh. Selama pemerintahannya  Ia mengubah namanya menjadi Akhenaten dan mengubah pemujaan dewa hanya kepada dewa matahari yakni aten. Ia pun membangun kota baru di Amarna yakni di tengah-tengah kota Thebes dan Memphis. Ia bertindak sesuka hati, tidak mempedulikan lagi akan negara yang dipimpinnya sehingga rakyat pun menderita. Setiap hari ia hanya mendiami istana barunya, tidak mau lagi mengurus kota Thebes dan Memphis senhingga ke dua kota itu mengalami kemunduran yang pesat dan Mesir menjadi negara yang lemah.

Raja Tutankhamun atau Tut sendiri adalah anak dari Amenhotep IV dengan selir mudanya, yang bernama Kiya. Kiya adalah putri dari raja Mitannian yang dikirim ke Mesir oleh ayahnya sebagai hadiah perdamaian antara kedua negara. Namun Kiya meninggal ketika melahirkan Tut sehingga bayi laki-laki itu di asuh oleh Nefertiti, sang permaisuri. Tut kemungkinan besar yang akan menggantikan ayahnya kelak sebagai Firaun selanjutnya karena ia adalah anak laki-laki satu-satunya dari Amenhotep IV. 

Setelah Amenhotep IV wafat maka Ratu Nefertiti menggantikannya sebagai Firaun karena Tut masih berumur 6 tahun dan belum dapat menggantikan ayahnya menduduki tampuk pemerintahan. Setiap hari Tut di tempa, dibina, dididik untuk dapat menguasai berbagai macam hal, seperti keahlian memanah, mempelajari hieroglif, mempelajari mengendarai kereta perang dan masih banyak lagi. Dalam dirinya telah mempunyai keinginan untuk memimpin para pejuang Mesir di medan perang, ia sering membayangkan dirinya mengendarai kereta perang, dengan dua ekor kuda jantan yang gagah perkasa di hadapannya dan ribuan prajurit yang siap mematuhi perintahnya.

Setelah Nefertiti wafat maka Tut naik takhta menjadi Firaun, namun sebelum naik tahkta ia menikahi saudara tirinya yakni Akhesenpaaten karena seorang Firaun di takdirkan untuk menghasilkan keturunan yang murni berdarah biru, bukan setengah bangsawan seperinya. Sedangkan Akhesenpaaten adalah murni berdarah biru dan merupakan anak dari Nefertiti, yang berarti ia adalah saudara perempuan dari Tut walau beda ibu.

Semenjak Tut kehilangan anak pertamanya, ia menyibukkan diri untuk melampiaskan hasrat  berperangnya. Ia menjadi sering berpergian  untuk belajar ilmu perang dan tak begitu peduli lagi pada istrinya. Peperangan pertama yang dipimpinnya menemui kemenangan, sebagai bukti bahwa ia adalah seorang raja yang ksatria. Namun, hal ini tidaklah cukup bagi para pejabat yang tidak menyukai Tut sebagai raja karena ia hanyalah seorang anak dari selir yang tidak berdarah biru, sedangkan ratu sampai saat ini pun belum dapat memberikan keturunan sebagai peawaris tahta untuk melanjutkan kepemimpinan Mesir, lengkaplah sudah kesalahan Tut yang membuatnya semakin tidak disukai oleh orang-orang yang berada di sekelilingnya.

Kondisi ini memicu adanya rencana penghianatan di dalam istana, terlebih setelah Tut diketemukan mengalami kecelakaan dan tidak sadarkan diri. Hari demi hari kondisi Tut masih saja belum pulih, infeksinya semakin parah lalu akhirnya sang raja pun wafat. Namun tempat persemayaman untuk sang raja jauh berbeda dengan para Firaun sebelumnya, ia disemayamkan jauh di dalam perut bumi dengan bilik yang sederhana, kecil dan tidak banyak ditampilkan lukisan dinding mengenai dirinya. Dengan mangkatnya sang raja maka semakin panas pula intrik perebutan kekuasaan dalam istana bahkan sang ratu pun tidak dapat berbuat apa-apa. 

Kembali kemasa kini, Carter semakin ambisius untuk menemukan persemayaman Raja Tut karena namanya hanya tercantum sekali pada sebuah patung Mesir, misteri itulah yang ingin dia pecahkan. Ia yakin akan adanya sesuatu yang terjadi di masa itu yang membuat Raja Tut tidak terkenal layaknya Firaun-Firaun lainnya.

⏩⏪

Novel ini beralur maju mundur, menggabungkan fakta sejarah masa silam dengan masa kini. Nama Amenhotep perkasa, Nefertiti, Amenhotep IV, Akhesenpaaten adalah fakta sejarah Mesir dan Howar Carter juga bagian dari fakta seorang arkeolog yang menghabiskan waktunya untuk melakukan berbagai macam penggalian makam Firaun. Novel ini menggunakan bahasa yang mudah dipahami dan cerita antara masa silam dengan masa penggalian Howard Carter saling melengkapi sehingga menjadi sebuah cerita yang menarik. 

Berdasarkan riset yang dilakukan oleh penulis, ia berpendapat bahwa Tut dibunuh, namun sejarah mencatat bahwa Tut wafat karena infeksi pada kakinya akibat kecelakaan. Anehnya lagi makam Tut sangat sederhana untuk sebuah makam Firaun dan tempatnya terpencil, serta tidak terdapat makam istri yang mendampinginya. hal ini mungkin yang membuat penulis mengangkat cerita tentang raja bocah ini agar bisa memberikan informasi mengenai sejarah masa silam yang terjadi yang dikemas menjadi sebuah novel sejarah yang fantastis.

Selasa, 10 September 2024

RESENSI NOVEL THE AMBER ROOM

Judul Asli: The Amber Room
Judul Terjemahan : The Amber Room
Pengarang : Steve Berry
Penerbit : Q - Press
Tebal : 629 halaman
Cetakan : 1, Januari 2006
ISBN : 979-99542-9-0
Kategori : Fiksi
Genre : Adventure
Rating : ⭐⭐⭐⭐⭐




BLURB

Ditempa dari mutiara tulen dan murni yang sangat indah, Ruang Amber (The Amber Room) adalah salah satu peninggalan harta karun terbesar yang pernah dibuat oleh manusia dan menjadi satu dari sekian misteri yang paling menggugah rasa penasaran dalam sejarah manusia. Pasukan Jerman yang menginvasi Uni Soviet pun merampas Ruang Amber pada 1941. Saat pasukan Sekutu mulai memborbardir mereka, Ruang Amber disembunyikan dan tidak pernah terlihat lagi sejak saat itu. Namun, perburuan itu kini dimulai lagi. 

Rachel Cutler, seorang hakim di Atlanta, mencintai pekerjaannya dan juga anak-anak nya dan tetap bersikap baik kepada Paul, mantan suaminya. Akan tetapi, segalanya berubah ketika Karol Borya, ayah Rachel, meninggal dunia secara misterius dan meninggalkan berbagai petunjuk ihwal sebuah rahasia - sesuatu yang disebut-sebut sebagai Ruang Amber. Merasa penasaran dan ingin mengetahui kebenarannya, Rachel bertolak menuju Jerman, sementara Paul menyusul di belakang. Terjebak dalam permainan yang sangat berbahaya dengan para pembunuh profesional, Rachel dan Paul pun berhadapan dengan keserakahan, kekuasaan dan arus sejarah itu sendiri.
⏩⏪

.Novel ini menyajikan alur maju dan mundur yang berkesinambungan satu sama lain. Diawali dengan prolog dengan latar belakang di kamp konsentrasi Mauthausen, Austria pada tanggal 10 April 1945 saat Hermann Goring melakukan penyiksaan dan pembantaian dengan kejam pada  tawanan tentara Jerman mengenai tempat ruang amber berada namun ia tidak mendapatkan hasilnya. 

Berpuluh tahun kemudian Karol Borya, ayah dari seorang hakim di Atlanta ditemukan meninggal dunia secara misterius, menurut hasil penyelidikkan polisi bahwa laki-laki tua itu tersandung di salah satu tangga dan kemudian jatuh terguling hingga meninggal; lehernya patah saat jatuh. Namun pada saat Paul, mantan suami Rachel memasuki rumah Karol untuk mengurusi semua peninggalan-peninggalan mantan mertuanya, tentu saja dengan ijin Rachel, ia tidak menemukan bekas apapun di di tangga kayu ek tersebut. Paul mengambil surat wasiat mertuanya dan beberapa surat lain yang ia temukan di bank, kemudian ia memberikan semuanya pada Rachel dan mereka membaca bersama semua surat-surat tersebut yang salah satunya adalah untuk Rachel, anaknya. Ada 2 map yang berisi artikel tentang ruang amber, sebuah peta Jerman, surat kabar USA Today, surat wasiat dan surat-surat yang ditulis untuk seseorang bernqama Danya Chapaev. Mereka berdua merasa aneh karena semua artikel berisi tentang ruang amber dan merasaada yang janggal dengan kematian Karol sehingga Rachel berniat untuk menyelidikinya bersama Paul karena orang tua Paul juga mengalami kematian yang dirasa janggal walaupun sebenarnya kematia mereka karena kecelakaan pesawat namun berdasarkan surat yang ditulis Karol, ia menceritakan betapa ia merasabersalah pada orang tua Paul karena menyuruh mereka untuk menyelidiki sesuatu yang menyebabkan mereka akhirnya celaka, dan Rachel yakin sesuatu itu adalah ruang amber.

Penyelidikkanpun dimulai. Rachel terbang ke Jerman untuk mencari Danya. Sementara itu seseorang bernama Knoll bermaksud menemui Rachel, ingin memastikan bawa Rachel sedikit banyak tahu tentang ruang amber seperti ayahnya. Dan ketika ia tidak berhasil menemui Rachel maka ia langsung menghubungi temannya untuk mencari keberadaan Rachel dan membuntutinya. Rachel belum menyadari sepenuhnya bahwa ia akan mendapati dirinya menjadi sasaran. Paul yang saat itu sedang membaca kembali surat-surat mertuanya menemukan sebuah titik terang tentang amber itu sendiri dan tanpa basa basi, ia langsung terbang ke Munich untuk menemui Rachel. Ia merasakan kekhawatiran yang teramat sangat dalam pada mantan istrinya itu.

Rachel telah berhasil menemui Danya bersama dengan Knoll yang telah mengelabui Rachel tentang identitasnya tentu saja agar ia juga bisa menyelidiki tempat dimana amber itu berada dan ternyata ia dan Karol memang pernah melihat ruang amber secara nyata, menurutnya gua amber itu terletak di bagian timur pegunungan Harz, namun sekarang telah ditutup Soviet. Ada begitu banyak gua dan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mengeksplorasi semuanya dan gua tersebut berbentuk seperti labirin tikus. Nazi memasang kawat dengan bahan peledak di hampir semua lokasi dan menyimpan amunisi di lokasi sisanya. Hal inilah yang menyebabkan Danya dan Karol tidak pernah memasuki gua tersebut. Knoll meminta Danya untuk menggambarkan peta tentang letak gua yang dimaksud, namun setelah merekaber dua pergi dari rumah Danya, ada sesuatu hal yang terjadi. Danya tewas dibunuh.

Peta Danya membawa Rachel dan Knoll pada sebuah terowongan bekas pertambangan dan tiba-tiba terjadi ledakan seperti gempa bumi, Rachel berlari menuju keluar dan mendapati Paul berada di luar terowongan namun ia tidak melihat Knoll. Setelah mencari-cari di sekitar terowongan, polisi yang datang bersama Paul memberi informasi bahwa Knoll tampaknya sudah pergi dengan mobilnya kemungkinan memang ia ingin meninggalkan Rachel terjebak dalam ledakkan di terowongan ini. Rachel pun bergidik, ia merasa sangat takut namun juga tetapingin melanjutkan penyelidikkan ini bersama Paul yang kini telah ada disampingnya.
⏩⏪

Berawal dari meninggalnya Karol Borya yang misterius, yang merupakan ayah dari seorang hakim wanita. Rachel bersama mantan suaminya, Paul kemudian menyelidiki kematian ayahnya. TKP tidak memberikan bukti yang mencurigakan. Namun pada saat mereka membereskan surat-surat, ditemukan berbagai artikel yang semuanya mebahas topik yang sama, yakni tentang  ruang amber dan sebuah peta di Jerman. Paul dan Rachel semakin yakin bahw ada yang tidak beres dengan kematian ayahnya dan begitu pula dengan kematian orangtua Paul bertahun-tahun silam. Mereka sepakat untuk menmulai penyelidikan tentang ruang amber, ia merasa yakin bahwa kematian ayahnya berkaitan dengan ruang amber yang sebenarnya ia sendiri tidak tahu apa itu ruang amber. Penyelidikkan membawanya menemui Danya, seseorang yang juga disebutkan dalam tumpukkan berkas Karol. Anehnya setelah pertemuan dengan Rachel, Danya ditemukan tewas terbunuh dan Rachel tidak menyadari bahwa penyelidikkannya ini membuatnya terancam bahaya, namun beruntugnya ada Paul yang selalu sigap menemaninya. Tidaklah mudah membuka misteri ini karena mereka selalu saja menjadi sasaran pembunuhan, inilah yang semakin membuatnya yakin bahwa ada sesuatu yang besar yang tidak ingin terungkap. Petualangan ini membawa mereka ke teowongn bekas pertambangan,berdasarkan peta yang diberikan Danya, namun pada saat merka memasuki terowongan tersebut tiba-tiba terjadi gempa yang dahsyat namun untungnya merka berdua bisa keluar dengan selamat. Kejadian ini tentu saja dapat membuktikn bahwa mereka berdua telah diikuti sejak awal dan semakin nyata bahwa ada oang yang ingin membunuh mereka karena mencari sebuah ruang amber.
 Novel ini penuh dengan ketegangan, intrik, yang menyulutkan adrenalin. Bahasa yang digunakan sangat mudah dipahami. Beberapa isi dari novel ini adalah nyata, seperti tokoh Hermann goring dan pembantaian tentara Jerman. Pencarian harta karun Jerman memang sudah lama menjadi incaran dan topik di kalayak ramai dan tidak mengherankan jika  novel ini menjadi best seller karena ide harta karun tersebut dituangkan dalam cerita fiksi yang sangat bagus dan menarik. Novel ini sangat direkomdasikan bagi pecinta sejarah karena banyak unsur sejarah yang dimasukkan dalam novel ini.




Senin, 27 Juli 2020

RESENSI NOVEL MICHELANGELO'S SECRET

Judul Asli : Michelangelo's Notebook
Judul Terjemahan : Michelangelo's Secret
Penulis : Paul Christhopher
Penerjemah : Nadiah Alwi
Penyunting : Yudi
Penerbit : Dastan Books
Cetakan/Tahun : I/2014
Tebal : 300 halaman
Ukuran : 12,5 x 19 cm
ISBN : 978-602-247-201-8
Genre : Thriller
Rating : ⭐⭐⭐⭐⭐



BLURB


Finn Ryan, mahasiswi sejarah seni New York University, menemukan gambar jasad wanita terpotomg-potong guratan Michelangelo, diperkirakan berasal dari buku catatan Michelangelo yang keberadaannya nyaris dianggap mitos.Namun, sejak itu ia hidup dalam ketakutan. Penemuan ini menyeretnya ke dalam pusaran konspirasi mematikan yang mengancam hidupnya dan orang-orang disekitarnya. Malam itu, seseorang menerobos masuk apartemennya, membunuh pacarnya, dan mengambil salinan gambar yang ia buat. Dalam pelarian, Finn bertemu dengan seorang pedagang buku kuno yang misterius. Keduanya bersama-sama membalik lembaran sejarah dan berusaha mengungkap lingkaran konspirasi. Namun akibatnya, setiap orang yang mereka temui, tewas!. Seorang pembunuh berada selangkah di belakang mereka, berusaha menghentikan mereka agar tidak mengungkap rahasia mengejutkan yang berakar di jantung Vatikan!.
⏩⏪

SINOPSIS

 Finn Ryan adalah seorang mahasiswi sejarah seni New York University, yang mempunyai pekerjaan paruh waktu di museum seni Parker-Hale. Tugasnya adalah memeriksa apakah nomor inventaris, nomor slide dan nomor sumbernya cocok. Tugas yang sederhana namun cukup membosankan. Suatu hari saat ia tengah melaksanakan tugasnya di museum Parker-Hale, ia melihat di sebuah laci ada salah satu lukisan tersangkut ke dalam sebuah celah kecil di belakang laci dan hampir tak terlihat. Dengan hati-hati, ia mencoba untuk meraih lukisan itu. Sebuah lukisan berukuran 6 x 8 inci, terpotong kasar atau barangkali robek pada sisi kirinya. Namun melalui sampul asetat dapat dilihat bahwa kertas itu merupakan kulit berkualitas tinggi, mungkin kulit domba yang digosok dengan kapur dan batu apung. Lukisan itu berkualitas sangat bagus, bergambar seorang wanita; yang sangat detail dan menarik namun bukan gambaran seperti pada umumnya seorang wanita, lebih tepatnya tampak seperti sebuah potret autopsi anatomis dari seorang wanita paruh baya yang disajikan dengan sangat indah. Ia heran mengapa lukisan ini bisa tiba-tiba terselip di laci tersebut. 

Finn kemudian mengamati dengan seksama, satu tahun ia habiskan untuk mempelajari karya dan masa hidup Michelangelo dan tulisan yang menubruk sisi kiri dan kanan lukisanj itu mirip seperti contoh-contoh yang telah ia lihat dalam naskah kecil dan tipis Michelangelo. Tanpa berlama-lama, ia segera memotret lukisan itu lalu menyimpan kameranya, berharap tak ada orang yang melihatnya karena direktur museum, Alex Crawley adalah seorang pemimpin yang sangat teguh memegang aturan. Untuk sekedar memotret di museum, harus melalui serangkaian panjang dokumen, izin-izin dan tulis menulis yang jelas terlebih dahulu.

Kembali ke tugasnya, ia membawa lukisan itu untuk dicocokkan dengan nomor inventaris sampulnya dengan data yang ada di komputer namun anehnya di layar kompuer tersebut tertulis tidak diarsipkan, hal ini membuatnya bingung. setelah memeriksa lebih lanjut nomor inventaris itu dalam data komputer, merupakan karya Urbino, dibeli dari koleksi pribadi Hoffman Gallery, cabang Swiss tahun 1924. Saat ia tengah asik memeriksa kejelasan lukisan itu, tiba-tiba ia dikejutkan oleh kedatangan  Alex Crawley yang tampak tidak senang dan sangat marah. Finn lalu menceritakan apa yang sedang ia lakukan, namun menurut  Alex lukisan ini bukanlah karya Michelangelo dan Finn bersikeras bahwa ini adalah karya Michelangelo, lalu terjadilah perdebatan yang sangat sengit yang pada akhirnya menyebabkan Finn dipecat dari museum.

Dengan hati kecewa, bingung, marah, ia kembali ke apartemennya dan teringat bahwa ada janji dengan teman laki-lakinya nanti malam. Sepulang dari makan malam dengan Peter, saat akan memasuki apartemennya, ia dikejutkan dengan kedatangan seseorang yang muncul dengan tiba-tiba tanpa suara dan sesuatu menghantam samping kepalanya, sesaat sebelum ia pingsan, hanya teriakan menakutkan yang ia dengar. Di sisi lain Ternyata Alex Crawley sang direktur museum ditemukan  tewas dengan cara yang sangat mengerikan. Seseorang telah menghujamkan sebilah belati koumnya, senjata tradisional Maroko, ke dalam mulutnya, mengiris ke atas dan tembus sampai otak. Letnan Delaney yang menangani kasus ini kemudian menemui Finn yang diketahui sempat beradu mulut sebelum Alex terbunuh.

Bagi Finn kejadian demi kejadian yang dialami membuatnya bingung danmerasa seperti mimpi. Peter tewas, begitu juga Alex, hanya beberapa jam setelah ia menemukan lukisan itu. Dan sekarang ia kembali dibuntuti oleh seseorang yang tidak ia kenal, dalam perjalanannya menuju sebuah hotel dimana ia ingin mengasingkan diri sejenak. Namun hal ini sulit dilakukan karena ia merasa nyawanya terancam dengan penguntit yang terus berusaha untuk menghabisinya. Finn kemudian menghubungi seseorang, seperti pesan ibunya bila menemui kesulitan maka ia harus menghubungi orang tersebut. 

Dr. Valentine menerima Finn dan berusaha untuk membantunya memecahkan misteri ini. Pencarian mereka menuju pada sekolah menengah Greyfriars berdasarkan info dari seorang informan untuk melacak asal usul belati yang digunakan si pembunuh. Namun di sini pun belum menemui titik terang. Pencarian demi pencarian pun dilakukan dengan ketegangan yang memacu adrenalin dan sementara itu masih terjadi pembunuhan demi pembunuhan yang ternyata berkaitan satu sama lain. Finn hanya berharap ia kan menemui titik terang dari semua kejadian yang membingungkan ini.

                                                                          ⏩⏪                                                                                           
Novel ini karya paul christopher yang sangat thriller di setiap sisi ceritanya. Ia menggambarkan setiap isi cerita dengan sangat sederhana, mudah dipahami dan membuat pembaca mengembangkan imajinasi mereka untuk terhanyut dalam ceritanya. Di setiap tulisannya mengandung misteri, dan adrenalin yang menegangkan, membuat pembaca terus saja menebak-nebak akhir dari ceirta ini. Novel ini menggunakan alur maju mundur untuk menggambarkan kejadian silam yang berkaitan dengan kejadian sekarang namun tetap saja masih menjadi misteri yang hanya dapat terpecahkan saat sudah selesai membaca akhir kisahnya.