resensi novel, resensi buku, resensi buku islam, resensi buku agama, resensi buku agama islam, contoh resensi buku, contoh resensi novel, sinopsis buku, sinopsis novel, sinopsis buku agama, sinopsis sejarah
Senin, 06 Maret 2023
REVIEW BUKU TITI KALONG
Minggu, 26 Februari 2023
REVIEW RAHASIA IMPERIA
Judul : Rahasia Imperia (Buku ke 2 Dari Trilogi Imperia)
Penulis : Akmal Nasery Basral
Penerbit : Gramedia
Cetakan : 2. Mei 2018
Tebal : 431 halaman
Peresensi : Elok mayangsari
Dalam buku 1 telah di ceritakan bahwa terjadi pertengkaran sengit antara MC dan Adel, yang membongkar semua sakit hati terpendam yang dirasakan Adel. Setelah kejadian itu, Wikan yang masih di Jerman dihubungi oleh MC, namun percakapan terhenti ketika terdengar teriakan MC meminta ampun dan bahkan meminta bantuan Wikan dan setelah itu terputus begitu saja. Wikan yang sebenarnya harus berangkat ke Frankfurt untuk tugas liputan yang baru, tidak dapat mengindahkan begitu saja. Ia menghubungi MC, Adel bahkan pergi ke hotel tempat MC menginap dan ternyata MC telah check out, lalu dimana MC sekarang?. Ketika diliputi kebingungan, Wikan janjian dengan Meiska, salah satu senior dan yang dikagumi oleh Wikan untuk bertemu di rumahnya, namun sebelum pertemuan itu terjadi terdengar kabar bahwa Adel, manajer MC, ditemukan tewas karena overdosis dan yang lebih mengejutkan lagi saat sampai di rumah Meiske, berita duka kembali hadir, MC pun ditemukan tewas. Wikan seketika hanya bisa terdiam dengan lemas.
Wikan diantar oleh Mesike, Stefan yang tak lain adalah anak dari Meiske dan Rakesh kekasih Stefan menemui Kapten Max. Wikan yang sangat cemas karena tiba-tiba MC meminta tolong lalu komunikasi terputus memang sengaja meninggalkan kartu namanya di hotel tempat menginap MC dan hal ini lah yang menyebabkan ia diperiksa oleh Polisi setempat. Adel tewas di Zurich dan MC ditemukan tewas di Mannheim, jarak yang tidak bisa dibilang dekat. Wikan dengan bantuan Meiske dapat bertemu dengan dr Schmidt yang mengotopsi MC, ditemukan bahwa sebelum tewas ia melakukan kenikmatan dunia dan terdapat juga sejumlah cambukan di sekujur tubuhnya. Sebuah angka 242 tertulis di lengan kanan bawah dengan menggunakan lipstikseri Rouge Dior Trafalgar. Seperti halnya dengan MC, Adelpun diduga mereguk nikmat dunia sebelum meregang nyawa akibat OD. Perlu waktu untuk menguji apakah cairan sperma yang ada di Adel dan MC sama atau berbeda. Wikan dengan persetujuan Krisnawan, seniornya, ditugaskan untuk tetap meliput tragedi Adel dan MC.
Penelusuran Wikan tidak mulus, ia beberapa kali dijadikan target pembunuhan namun semangatnya tidak menyurutkan langkah. Ia merasa harus membongkar siapa dalangnya karena dia adalah orang terakhir yang melihat dan mendengar semua pertengkaran mereka berdua di bawah patung imperia. Saat ini ada dugaan nama dalang pembunuhan, mungkinkah Jendral Pur yang lebih akrab disapa Bapak, mengingat ternyata MC mempunyai hubungan gelap dengannya selama bertahun-tahun, namun kalau memang Bapak dalangnya, motifnya apa. Tapi ternyata otak dibalik semua itu adalah orang yang sangat tidak disangka sama sekali.
Buku ini sangat rekomended, ceritanya tidak bikin bosen, apalagi ditambah ketegangan pas Wikan kejar-kejaran naik motor sama Bajrak sampai-sampai ia gemetar hebat dan pas Wikan di sandera, nyaris di bunuh tapi beruntung ia bisa mengendalikan situasi dengan mengulur waktu, sangat cerdas. Dan satu lagi plot twistnya bikin speechless, tapi petualangan Wikan belum berakhir, tunggu ya review buku ke 3 dari trilogi imperial.
Sabtu, 28 Januari 2023
REVIEW KISAH-KISAH TENGAH MALAM
Judul : Kisah-Kisah Tengah Malam
Penulis : Edgar Allan Pole
Penerbit : Gramedia
Cetakan : 4, Juli 2017
Tebal : 245 halaman
Peresensi : elok mayangsari
Kedua kali baca cerita klasik, menurutku sangat mengesankan karena daya imajinasinya yang tinggi dan dikemas dengan apik sehingga rasanya membacanyapun ikut terbawa arus imajinasi. Meskipun memang agak membosankan karena mungkin pengaruh mind set yang terlanjur nyaman di genre thriller tapi tetap saja kagum dengan daya imajinasinya.
Buku ini memuat cerita-cerita pendek yang berjumlah 13, yakni gema jantung yang tersiksa, pesan dalam botol, hop-frog, potret seorang gadis, mengarungi badai melstrom, kotak persegi panjang, obrolan dengan mummy, setan merah, kucing hitam, jurang dan pendulum, pertanda buruk, william wilson, dan misteri rumah keluarga usher. Dari sekian banyak cerita pendek, menurutku yang menarik adalah gema jantung yang tersiksa dan potret seorang gadis. Pada gema jantung yang tersiksa, diceritakan sebuah pembunuhan kemudian pelaku memutilasi dan dimasukkan di lantai bawah kamar dengan sangat teliti dan hati-hati.Namun saat polisi datang entah mengapa ia berubah menjadi tidak tenang dan semakin kesal karena polisi tidak pergi juga hingga akhirnya datang suara lain yang sangat mengganggu. Untuk menghilangkan gangguan suara itu pelaku berceloteh tak tentu arah dan akhirnya ia berteriak menyuruh polisi itu membongkar lantai kayu tempat korban berada, ya ternyata denyut jantung korban yang membuatnya terganggu dan mengakui perbuatannya. Lain halnya dengan kisah potret seorang gadis, dikisahkan seorang gadis yang menikahi seniman, mereka mempunyai latar belakang yang jauh berbeda. Seniman ini sangat mencintai profesinya dan seringkali mengabaikan hal lain. Gadis ini suatu ketika dijadikan model lukisan dan disuruh duduk selama berminggu-minggu di dalam ruangan yang gelapdi dalam menara kecil istana dengan cahaya yang masuk hanya cukup untuk menyinari kanvas. Ia bekerja keras menoreh kuas untuk menggambarkan kesempurnaan istrinya, tanpa disadari ia sudah tidak menoleh lagi pada istrinya yang masih setia duduk menemaninya hingga minggu dan bulan telah berlalu, saat mahakarya sempurnanya selesai, sang istri telah mati.
Jumat, 20 Januari 2023
REVIEW BUKU 23:59
Judul : 23:59; Kumpulan Cerita Horor
Penulis : Tim
Penerbit : Tisapinkluv
Cetakan : I, Nov 2021
Tebal : 252 halaman
Peresensi : elok mayangsari
Buku ini adalah kumpulan dari cerita-cerita horor yang ditulis oleh 14 penulis dari berbagai latar profesi kepenulisan, seperi penulis skenario, penulis novel, penulis platform, mentor kelas menulis dan sebagainya. Ada 13 judul dalam buku ini yakni; pulang, deathline, ulang tahun, superior, begu dan kain yang tanggal, aturan-aturan untuk tetap hidup, sinyal kematian, malam satu suro, lantai 13, the victim, rumah fengshui, kembar dan the flat. Awalnya dipikir pasti akan horor tapi ternyata tidak se horor jika membaca kisah-kisah urban legend. Seperti pada kisah pulang, Restu mengira ia pulang ke kampung halaman dan ingin memperbaiki hubungan dengan bapak dan adiknya namun justru ia mendapati bahwa makanan yang disajikan bapaknya adalah hasil olahan daging adiknya, dan kemudian yang terjadi adalah ia dihakimi warga. Ternyata beberapa tahun silam ia lah yang membunuh bapak dan adiknya karena tidak tahan dengan perilaku bapaknya yang gemar mabuk. Kepulangan kali ini justru dialah yang ditangkap. Memang ada cerita tentang hantu tapi menurutku biasa saja karena tidak terlalu menyeramkan. Buku ini cocok bagi yang mau baca horor tapi santai.
Selasa, 20 Desember 2022
RESENSI DON'T CRY
Judul Asli: Don't Cry
Judul Terjemahan : Jangan Teteskan Air Mata
Penulis : Beverly Barton
Penerbit : Dastan
Cetakan : 1, April 2014
Tebal : 523 halaman
Peresensi : Elok Mayangsari
Seorang wanita berambut gelap duduk di kursi goyang dengan mata tertutup seolah sedang tidur. Dipangkuannya terdapat sebuah selendang biru yang sedang membungkus sesuatu, seperti bayikah atau boneka. Ia memang terlelap sangat damai hingga tak kan pernah lagi membuka mata, dan selendang biru itu membalut tulang belulang seorang anak kecil. Pelaku sepertinya memang berusaha keras memposisikan korbannya agar terlihat sangat dramatis atau memang ia sedang memberikan sebuah pesan, mungkin, entahlah. Korban bernama Jill Scott salah satu dari 2 wanita yang hilang entah kemana. Tulang belulang anak kecil ini ternyata adalah korban penculikan 30 tahun yang lalu. Kasus yang tak pernah selesai karena dalam periode 5 tahun telah hilang 7 anak kecil yang hingga kini tak diketahui keberadaannya. Regina Bannet adalah wanita yang diyakini telah menculik ke 7 anak itu dan beruntungnya korban ke 7 berhasil diselamatkan. Regina berakhir di rumah sakit jiwa dan beberapa waktu yang lalu telang meniggal. Namun masih ada ganjalan karena Regina bersikeras bahwa ia hanya membunuh 1 anak saja yakni anak kandungnya sendiri yang bernaqma Cody, sementara untuk 6 anak lain tak pernah ditemukan dan kasus dibiarkan begitu saja.
Korban pertama, Jill Scott menggendong anak kecil yang pertama kali hilang, yakni Keith, korban ke dua yakni Debra menggendong Chase yang merupakan anak kecil ke 2, ia sepertinya memang merencanakan dengan matang untuk mengembalikan semua korban anak kecil yang menghilang kepada orang tua mereka meski hanya tersisa tulang-tulangnya saja. Perburuan ini masih terus berlanjut hingga ia bisa menepati janjinya dengan Regina agar dapat bersatu kembali dengan Cody. Korban yang dipilih selalu identik, ia hanya ingin korbannya memberikan kasih sayang untuk Cody, menyanyikan lagu nina bobok sebagai penghantar tidur yang indah dan sesuai instruksinya meletakkan bantal di tulang-tulang kecil yang ia dekap sambil terus bernyanyi dan setelah itu ia yang akan membekap korbannya hingga tak dapat bernapas. Dan sekali lagi ia merasa Regina kembali bersatu dengan Cody.
Sangat menarik, seru, tegang, apalagi pada bagian bahwa ternyata bukan 6 anak yang hilang, namun hanya 5, lalu kemana hilangnya anak laki-laki yang satu lagi?. Ternyata demi kasih sayang seorang kakak pada adiknya yang menderita depresi, ia harus menyembunyikan kebohongan yang sangat besar selama 30 tahun. Tak peduli kebohongan ini membuat 2 keponakannya mengalami trauma, insomnia,mimpi buruk sepanjang masa. Bahkan demi menutupinya ia rela mengorbankan satu nyawa lagi agar karier dan jabatannya tetap terjaga. Ambisi memang selalu membuat cara berpikir menjadi kotor dan mampu melakukan hal di luar batas kewajaran.
Selasa, 13 Desember 2022
RESENSI CLOSE ENOUGH TO KILL BEVERLY BARTON
Judul : Close Enough To Kill
Penulis : Beverly Barton
Penerbit : Dastan
Cetakan : 1, September 2008
Tebal : 523 halaman
Peresensi : Elok Mayangsari
Perlakuan yang di dapat dari masa remaja seringkali menimbulkan kesan mendalam sepanjang usia. Ia bukan anak populer, hanya seorang remaja kutu buku dan berkacamata tebal hingga kerap kali diasingkan karena mereka memandang sebelah mata, begitu pula dengan para gadis populer yang tidak mau bersentuhan dengan laki-laki yang aneh menurut mereka. Hingga suatu saat kelompok gadis populer, yang cantik, manja, angkuh menyapa dan mengajaknya bertemu dengan alasan ingin kutu buku ini bergabung dalam kelompok populernya. Namun sebelum itu tentu saja ada syarat uji coba yang akan dilakukan terlebih dulu. Pria remaja ini tanpa berpikir panjang mengikuti permainan karena sangat ingin menjadi terkenal namun yang terjadi sangat menyakitkan dan membuatnya mengalami gangguan jiwa karena ia dilecehkan dengan disuruh berhubungan badan dengan seekor anjing besar yang ganas.
Penderitaan psikis yang mendalam menimbulkan dendam yang sangat rapi tertutup. Melvin mengubah jati dirinya dan mulai merencanakan serangkaian pembalasan sadis untuk ke 4 gadis yang melecehkannya. Ia kira dengan membunuh 4 gadis itu maka kebencian akan terbalaskan namun yang timbul adalah rasa ketidak puasan dan untuk mengatasinya ia mulai mencari gadis populer bermata coklat sebagai korban-korban selanjutnya. Dimulai dengan menguntit mereka untuk mengetahui kebiasaan, kesukaan, pekerjaan,dan pribadi detaiil calon korban. Lalu mengirimkan tulisan puitis yang membuat gadisnya terbuai, mengirimkan kado berupa cat kuku dan sketsa-sketsa pose menjijikkan seperti pose sadomakish dan terakhir pose calon korban di sayat lehernya dengan tetesan darah. Terakhir ia akan mengirimkan kado seuntai kalung mutiara beserta kalimat puitis dan masuklah dalam jebakan. Korban disiksa, diperkosa dengan brutal kemudian dibunuh dengan disayat lehernya. Semua korban ditemukan dalam keadaan posisi yang menggoda, satu tangan menutupi dada, tangan yang lain menutupi kemaluan dan selama bertahun-tahun ia berhasil menghilangkan jejak dan kembali melanjutkan misinya membunuh berulang-ulang gadis populer.
Selasa, 06 Desember 2022
RESENSI NOVEL THE DYING GAME BEVERLY BARTON
Judul Asli : The Dying Game; Wanita-Wanita Pilihan Sang Psikopat
Penulis : Beverly Barton
Penerbit : Dastan
Cetakan : I, 2009
Tebal : 552 halaman
Peresensi : Elok Mayangsari
Dari semua cerita kriminal, pembunuhan berantai adalah cerita yang paling menarik karena pelaku mempunyai pola tersendiri untuk menggaet korban dan cara membunuhnyapun bukan asal-asalan saja. Semua serba terorganisir, terencana dengan sangat rapi sehingga akan semakin sulit menangkapnya. Pelaku biasanya sangat ahli dan lihai dalam penyamaran, bukan tidak mungkin ia pernah sangat dekat dengan korban tanpa disadari. Seperti halnya dengan kasus pembunuhan berantai ini yang korbannya adalah ratu kecantikan. selama 4 tahun Grif , kepala agen Powell dan Nic dari FBI sangat kewalahan dalam menebak siapa yang membunuh korban dengan sangat kejam. Setiap korban dipilih dengan teliti baik secara fisik maupun kepribadian dan kehidupan sehari-harinya sehingga memudahkan pelaku untuk menggiring dalam perangkapnya. Ratu kecantikan dibunuh dengan cara yang berbeda-beda, tergantung dari bakat dan keahlian yang mereka punya, bila bakat menari maka kedua kaki akan dipotong, ahli biola maka kedua tangan dan lengan yang menjadi sasaran, seorang penyanyi maka leher yang digorok, sadis bukan?
Gale Ann Cane, Miss Universe yang sangat pandai menari, ditemukan oleh kakaknya dalam keadaan mengenaskan, kedua kaki jenjangnya yang dipakai untuk menari dipotong dengan sadis. Ia berhasil dibawa ke rumah sakit dengan penjagaan yang ketat dan dalam keadaan antara sadar dan tidak, ia membisikkan kata dua puluh poin dan permainan sebagai kata terakhir. Ya, ini adalah permainan kematian, dimana setiap korban diberi nilai poin yang berdasarkan warna rambut. 20 poin untuk warna rambut merah, 15 poin untuk warna rambut pirang dan 10 poin untuk warna rambut coklat. Selain itu di setiap TKP pasti akan ada mawar dengan warna yang berbeda karena mawar kuning untuk korban berwarna rambut merah, mawar merah muda untuk korban warna rambut pirang dan mawar merah bagi korban dengan warna rambut cokelat.
Siapa yang menyangka permainan kematian yang hanya berawalan dari keisengan justru membuat pemainnya merasakan sensasi yang tak pernah ia duga. Baginya memainkan peranan hidup dan mati memberikan pengalaman luar biasa yang tak pernah dialami sebelumnya. Dan lebih membuatnya merasa kecanduan dibanding dengan semua jenis narkoba yang pernah ia konsumsi. Setiap kali ia mendengar jeritan ketakutan, kesedihan dari korbannya, setiap kali itu pula ia merasakan sensasi kegembiraan dan semakin bersemangat, bergairah untuk membunuh. Semakin lama permainan ini mendekati garis akhir dan tentu saja target poin yang dikumpulkan semakin tercapai, ia harus cepat-cepat mengakhirinya dan tak ingin lawannya memenangkan permainan ini.Ya ternyata permainan ini dilakukan oleh 2 orang saudara sepupu sementara Grif dan Nic kemungkinan tidak menyadari akan hal ini. Semakin mendekati batas akhir, salah seorang pemain mengubah peraturan, yakni siapa yang kalah maka ia akan mati ditangan sang pemenang, tentu saja hal ini membuat mereka semakin tertantang dan pembunuhan pun semakin sering dilakukan.